Teman,
Ku akui kasihku berjaya meragut hatinya, namun nilai cintaku masih kau ragui. Kesetiaanku di batasi keraguan. Kejujuranku masih di ambang percayamu. Namun aku terus mengharapkan impian indah bakal tercipta buat kita.
Teman,
Tak pernah kau cuba imbangi hatimu untuk menyayangiku. Sedikitpun tidak kau rembes keegoanmu demi keikhlasanku. Andai kau tangkis badai tu, pasti kau sedari seawalnya.
Namun, diri ini terus menyinta dan merindu. Kau sambut rindu dengan luahan kasih bertinta sayang. Ku semai benih setia dipintu asmaramu. Bahagianya kita melalui detik itu.
Teman,
Ku tahu hatimu pernah terluka. Tak inginku terus mencurah bara, menambah sakit di dada. Lantasku ubati luka itu, dengan penawar kasih yang kau beri
Setiap detik indah akan ku kenang selamanya. Perit getir dan dugaan akan ku jadikan cabaran masa mendatang.
Teman,
Andai aku menghiris luka hatimu, maafkanlah aku. Aku tidak berdaya melawan takdirnya. Impian kita tidak terkalam. Gelombang cinta kita tidak seindah lautan kasih yang kita ciptakan. Ia hambar dan mengalir lesu dek kemarau berpanjangan. Mimpi menghuni di lipatan memori.
Teman,
Aku masih merasai kemanisan pertemuan itu, namun kepahitan kerna perpisahan lebih memijar bak hempedu.
Teman,
aku terpaksa pergi demi kebahagiaanmu. Izinkan aku sematkan namamu di hatiku agar ku bisa ingati dirimu selamanya, berikan aku sedikit ruang agar dapat ku pahat memori indah kita agar dapatku mengukir senyum dikala duka.
No comments:
Post a Comment